Sunday, December 06, 2009

Alergi Komputer (02)


 

Saya mempunyai kisah lain tentang alergi Komputer ini.

Ketika saya masih aktip bekerja di salah 1 Puskesmas, saya menganjurkan kepada salah seorang staf  saya agar ia membeli 1 set Komputer agar ia dan ke 2 putranya yang duduk di SMU  paham tentang komputer.

Ketika ia mempunyai cukup rejeki, ia membeli 1 set Komputer type 486 DX yang saat itu masih cukup memadai untuk program aplikasi yang akan dipakai. Ia merasa tergugah dengan motivasi saya agar segera memiliki Komputer. Sesudah hal itu terkabul, giliran isterinya ngomel, ”Untuk apa beli komputer dan tidak ada gunanya bagi kami saat ini.” Suaminya menerangkan dengan sabar manfaat Komputer saat ini dan juga demi study putra mereka yang pasti dalam waktu dekat mereka sudah harus bisa menangani komputer karena tugas-tugas di sekolah yang memerlukan Komputer. 

Ketika isterinya yang pegawai negeri sipil mendapat tugas menulis laporan, maka suaminya yang membuatnya dalam waktu yang relatip singkat dan tanpa ada goresan “tip ex”  ( penghapus tulisan mesin tik ) sehingga laporan itu terlihat rapih. Barulah isterinya menyadari pentingnya Komputer. Baru tau dia…

Suaminya saat ini sedang menyusun skripsi untuk jenjang pendidikan S1 nya yang ia ambil pada kuliah sore hari di salah satu Perguruan Tinggi di kota kami. Saya anjurkan agar nanti pada waktu mempresentasikan skripsinya,  ia memakai program aplikasi untuk presentasi yaitu program “POWER POINT” yang di proyeksikan kelayar dengan alat “In  Focus” sehingga memberikan nilai tambah bagi presentasinya. Saya akan mendukungnya presentasi tugas akhirnya ini. Semoga sukses kawan. Semuanya adalah berkat Komputer yang kita pelajari. Jadi janganlah alergi terhadap Komputer.

Berbeda dengan orang lain yang alergi Komputer maka putra saya yang pada tahun 1997 masih duduk di SMU sudah merasakan bahwa ia perlu komputer karena ia sering kali mendapat tugas dari gurunya untuk membuat macam-macam tugas tulis menulis ( daftar piket dll ). 1 tahun kemudian putri kami yang duduk di SMP juga tidak menolak ketika saya memesankan 1 set komputer untunya. Jadi masing-masing  kami mempunyai 1 set Komputer agar tidak saling terganggu bil a pada saat yang sama memerlukan Komputer. Saat ini kami saling mengirim/menerima e-mail karena  mereka melanjutkan study diluar negeri.

Bulan Juli 2000 putra kami mengirimkan alamat personal web site nya di Internet. Ketika saya menerima alamat tsb, saya mempunyai ide bahwa bila putra saya dapat membuat personal web site di Internet, maka saya juga pasti bisa. Padahal sebelumnya kalau saya pergi ke toko buku yang menyediakan buku-buku tentang program aplikasi pembuatan Web site, saya selalu cepat-cepat berlalu. Saya alergi terhadap program ini ( alergi juga ni ye..). Saya membayangkan bahwa pembuatan program web site itu sangat rumit, memerlukan bahasa HTML dsb yang tidak saya kuasai. Sekarang apakah saya tetap alergi dengan program ini? Kalau saya alergi, maka sampai kapanpun saya tidak akan dapat membuat personal web site sendiri. Saya harus memesan kepada orang lain untuk membuat  personal web site ini dan ini tentu tidak gratis. Yang terakhir ini saya pastikan tidak mau. Jadi saya harus mebuatnya sendiri. Terdorong oleh personal wb site putra kami, maka saya mencoba membuatnya.

Langkah-langkah yang saya ambil adalah:

  1. Mencari buku-buku tentang cara pembuatan Web site.
  2. Mencari software dan meng install pembuat web site.
  3. Mencari informasi dimana saya dapat meng uploading files personal web site  yang akan saya buat.
  4. Mencoba membuat personal web site dengan cara autodidak.

Kesalahan demi kesalahan saya lewati. Dalam 2 hari di sela-sela jam praktek dan kesibukan rutin saya sehari-hari, akhirnya saya dapat membuat personal web site dan dapat di akses di Internet. Bila Anda ada waktu, silahkan Anda mengunjunginya di alamat: http://crb.elga.net.id/~basuki yang sudah almarhum  karena ISP kami sudah ditutup 2 tahun yang lalu.

Kalau saya bisa, maka Anda pun pasti bisa. Syaratnya?: kemauan.

Selamat membuat personal web site di Internet. Saat ini sudah banyak fasitasyang gratisan untuk membuat personal website atau webblog / Blog, seperti: http://www.blogger.com  Bye.

 

Alergi Komputer (01)



Kalau menjumpai seorang yang alergi terhadap udang, saya dapat memberi suntikan Avil ( golongan anti histamin, anti alergi ) untuk menghilangkan gejala gatal-gatalnya. Untuk orang yang alergi Komputer, apa obatnya? Sejak lama saya belum menemukan obat yang jitu, meskipun saya mencarinya di dalam bermacam-macam buku dan bahkan di Internet sekali pun. Wah… parah sekali rupanya penyakit “alergi Komputer” ini.  

Kisah ini sudah laa terjadi, sekitar tahun 1986. Ketika saya berada di Jakarta, saya ditanya oleh adik ipar saya, “Apakah di Cirebon sudah ada toko Komputer? dan apakah kakak sudah paham tentang Komputer?” Saya menjawabnya, “Setahu saya di kota kami baru ada 1 toko yang menjual Komputer dan sampai saat ini saya belum paham apa itu Komputer karena saya belum mempunyainya.”

Malu karena nanti saya di anggap kuper ( kurang pergaulan), maka  seminggu kemudian saya minta tolong kepada adik ipar saya yang lain yang juga tinggal di Jakarta agar  saya dipesankan 1 set Komputer type XT. Waktu itu hanya ada 2 type yaitu XT dan AT yang lebih canggih. Saya pilih yg XT karena harganya masih terjangkau oleh saya dan juga dengan asumsi bahwa kelak bila saya sudah paham benar tentang Komputer maka komputer akan diganti dengan yang type AT atau yang lebih canggih dan tentu lebih mahal harganya.

Sejak kiriman pesanan Komputer saya tiba, maka saya asik menekuni Komputer. Malam pertama sekitar jam 21.30 saya mencoba “memboot” Komputer itu untuk melihat program apa saja yang ada dalam harddisk. Di dalam menu saya melihat ada program word processor ( Wordstar ), ada spead sheet untuk mengolah angka ( Symphoni ) dan ada  satu lagi program yang saya sudah lupa namanya. Program ini ternyata tidak mau muncul di layar monitor, meskipun saya telah berulang-ulang menekan tombol Enter.

Saking jengkelnya saya sampai membongkar chasing dari CPU  ( Central Processing Unit ). Ketika saya buka chasing tersebut, maka saya makin bingung, begitu banyak sparepart yang saya baru melihatnya dan apa lagi fungsinya pun tidak tahu.

Pada Lesson 1 ini saya mendapat pengalaman unik. Selidik punya selidik ternyata ada 1 jack diujung seutas kabel yang tidak menempel pada slot manapun. Saya pikir ini biang keroknya sehingga program tidak muncul di layar. Ketika saya akan menghubungkan jack tadi dengan salah satu slot, saya bingung juga, bagaimana nanti kalau terjadi hubungan pendek arus listrik? Bukannya makin benar tetapi mungkin Komputer saya akan terbakar. Akhirnya saya menyerah dan chasing saya tutup kembali dan saya akan menanyakan kepada adik ipar saya pada keesokan harinya. Saya melihat saat itu jam menunjukan jam 03.00 dini hari. Wah…sekian jam berlalu tidak terasa, saking asiknya menekuni Komputer.

Keesokan harinya saya mendapat Lesson 2 dimana adik ipar saya mengatakan bahwa Komputer saya tidak rusak sedikitpun. Masalah  program yang tidak muncul di monitor karena memang programnya belum di install kedalam harddisk. Glek…inilah lesson 2. Saya terbengong juga karena dalam menu ada programnya tetapi ketika di panggil tidak muncul-muncul. Akhirnya menu sedikit diubah dan program yang saya perlukan berjalan dengan baik.

Nah kini Lesson 3: bagaimana saya mempelajari program pengolah kata ( Wordstar ) ini  dengan baik? Ikut Les Komputer? Atau belajar senidir? Akhirnya karena terbentur masalah waktu ( karena saya harus bekerja di Puskesmas dan membuka praktik sore agar dapur kami tetap berasap ), saya memutuskan untuk belajar sendiri ( autodidak ) dari buku-buku Komputer yang saat itu masih langka dan sulit dicari, apalagi di kota kami.  Akhirnya saya bisa juga memanfaatkan Komputer tadi untuk menulis surat, menulis laporan dan membuat data base program kesehatan Puskesmas A dimana saya bekerja, meskipun saya mengetik/menekan keyboard hanya dengan 4 jari saja.

Keesokan harinya saya mendapat Lesson 4 yang menyebalkan. Ceritanya begini: sudah 1 jam saya mengetik dengan Wordstar, karena perut sudah lapar maka tanpa meneliti  lagi saya langsung keluar dari Wordstar dan pekerjaan saya belum disimpan ( di “save”) di harddisk. Ketika 1 jam kemudian saya membuka file yang saya buat dengan susah payah ternyata saya tidak menemukan file ini . Rupanya hilang karena tidak  saya “save” terlebih dulu. Betapa kecewanya saya saat itu. Terpaksa saya mengetik ulang file tadi. Waktu banyak terbuang percuma. Inilah Lesson 4 yang kejam dan hal ini sering terjadi pada rekan-rekan lain yang baru belajar. Ingat Lesson 4 ini, agar tidak terjadi pada diri Anda.

Banyak manfaat yang saya dapatkan dari Komputer saya ini, misalnya:

Dengan pengolah kata ( word processor ):

  1. Membuat makalah untuk saya dan isteri saya dalam waktu 1 malam.
  2. Membuat surat-surat pribadi.
  3. Membuat blangko surat sakit untuk pasien .
  4. Membuat artikel-artikel kesehatan di bulletin Gereja dan buletin sekolah anak –anak kami, dll ( kiriman artikel ini diberi uang lelah yang lumayan, jadi Komputer saya dapat dipakai untuk mencari uang ).

Dengan pengolah angka ( Lotus ):

  1. Membuat hasil rekapitulasi data program kesehatan di  5 Kelurahan di Kecamatan kami.
  2. Membuat anggaran pendapatan dan belanja keluarga saya.
  3. Membuat grafik dari data yang ada, dll

Dengan program pembuat Grafik ( Harvard Graphic ):

  1. Membuat grafik hasil PIN ( Pekan Imunisasi Nasional ).
  2. Membuat grafik pencapaian setiap program kesehatan Puskesmas A, dll.

Dengan kemajuan tehnologi di bidang Komputer maka saya meng upgrade Komputer saya setahap demi setahap sehingga saat ini saya memiliki Komputer dengan processor: Pentium 166 Mhz. Dan memory ( RAM ) 64 Mb. Inipun sebenarnya sudah jauh tertinggal karena sampai saat ini sudah beredar di pasaran Processor Pentium III 550 Mz, Pentium 4, dsb.

Semula sistim operasi Komputersaya memakai DOS ( Disk Operating System ). Saat ini sistim Komputer saya seperti umumnya Komputer yang orang lain adalah Windows, saya pakai Windows98 dan program aplikasi yang dipakai adalah paket program yang dibuat oleh perusahaan Microsof yaitu MS Office 2000 Premium .

Pada tahun 1987 saya menganjurkan kepada salah satu teman sejawat yang menjabat sebagi Kepala Seksi Pembinaan Kesehatan Masyarakat agar DKK Cirebon ( Dinas Kesehatan Kodya Cirebon ) memiliki 1 atau 2 set Komputer untuk kelancaran tugas rutin sehari-hari. Teman saya menjawab, “Belum perlu”. Bahkan ada teman sejawat saya yang lain berkata dengan nada sinis,”Untuk apa Komputer di Puskesmas?” 

Saya jawab,”Saat ini mungkin saya ditertawakan orang lain, tetapi nanti pada saatnya saya akan tertawa paling akhir.” Saya menjawab dengan sengit karena saat itu Komputer sudah di pakai di banyak Kantor dan DKK sudah saatnya mempunyai Komputer. Benarlah anggapan saya ini karena 2 tahun kemudian karyawan DKK mengeluh kepada saya karena Kanwil Dep.Kes. Propinsi Jabar mulai saat itu mulai melaksanakan laporan program Kesehatan secara computerize, blangko laporan dikirim dari Bandung dalam bentuk disket Komputer dan setelah diisi oleh seluruh DKK se Jabar, disket tadi harus dikirimkan kembali ke Bandung. 

Bagaimana dapat membuat laporan dalam disket, bila komputernya saja tidak ada dan petugas yang terlatih pun belum disiapkan. Ketika saya dimintai tanggapan tentang masalah ini, saya tidak menjawab tetapi tertawa terbahak-bahak. Nah rasain lu, sekarang baru sadar kan, bahwa masalah Komputer ini jangan dianggap sepele. Ya sekarang  semuanya harus berlari untuk mengejar ketinggalan. Akhirnya  DKK Cirebon mempunyai beberapa set Komputer dan sejumlah karyawan yang sudah terlatih baik. Bahkan ada yang lebih terampil dari saya sendiri seperti mengetik dengan 10 jari.

 

Perkembangan tehnologi demikian pesatnya dan komputer sudah tersambung dengan Internet sehingga kita dapat saling mengirim electronic mail ( e-mail ) dari 1 tempat atau 1 negara ke tempat/negara lain dalam waktu singkat dan biaya yang jauh lebih murah dari pada biaya telepon Sambungan Lintas Internasional ( SLI ).

 

Tahun yang lalu saya pernah membaca di sebuah harian ibukota yang menuliskan pengalaman seorang ibu rumah tangga. Ketika putranya melanjutkan study di USA, demi keperluan komunikasi antara keluarganya dan putranya tadi, putranya mengusulkan agar ibunya belajar Komputer dan agar Komputer tadi dilengkapi dengan alat Modem yang tersambung ke line telepon, sehingga bisa mengakses Internet dan dapat saling mengirim atau menerima e-mail. Akhirnya dengan ketekunan ibu tadi maka mereka dapat menerima e-mail dengan lancar dan dengan biaya murah. Ini berbau promosi tentang Internet, tetapi saya pikir ini ada benarnya. Lalu saya mulai berpikir, kalau ibu rumah tangga saja bisa “go Internet”, saya pun sebagai bapak tumah tangga mesti bisa juga. Setelah Komputer saya dilengkapi Modem dan mendaftar menjadi user di salah satu ISP ( Internet  Service Provider ) di kota saya, maka saya pun sudah dapat “go Internet”. Banyak manfaat  yang dapat diambil dari Internet.

 

      Manfaat yang dapat diambil dari Internet, antara lain:

  1. Dapat mengirim/menerima e-amil dari mana saja di dunia ini asal komputer bisa mengakses Internet.
  2. Dapat mengambil berita apa saja ( social, politik, bisnis, kesehatan dll ), dari mana saja ( dari komputer pribadi di rumah, dari dalam mobil, dari Warung Internet dll ) dan kapan saja ( pagi, siang, malam, 24 jam full ) mau dilakukan.
  3. Dapat memasang iklan di Internet ( jual barang, mencari pekerjaan, menjual jasa pelayanan dsb ) sehingga iklan kita dapat di baca oleh siapa saja yang berminat, dari mana saja dan kapan saja dalam 24 jam penuh.
  4. Dapat membeli/memesan barang yang di promosikan ( saya sudah pernah membeli 2 buku melalui Internet di web site Toko Buku Amazon di alamat: http://www.amazon.com, yang dapat dibayar dengan mempergunakan Kartu Kridit Visa, pesanan datang dalam waktu 3 minggu kemudian ).

Semuanya ini dapat kita lakukan dengan hanya duduk dan mengetuk tombol keyboard Komputer kita. Kita dapat melakukannya tanpa susah payah. Kita bisa melakukannya sambil minum kopi.

Yang saya kagumi adalah: 

  1. Kecepatan dari tehnologi Internet ini. Dalam bilangan detik, maka e-mail yang kita kirimkan sudah keluar dari Komputer kita dan dalam bilangan menit maka e-mail kita sudah sampai di kotak surat ( mail box ) si penerima yang berada di server Komputer ISP mereka entah dimana ia berada.
  2. Ketelitian Komputer dan program-program aplikasinya. Bila salah ketik 1 huruf saja, misalnya ketika salah menuliskan User ID atau menuliskan Password ( kata sandi ) bila kita ingin kontak ke ISP saya maka akan error dan selanjutnya program akan berhenti sampai disitu saja atau bila kita salah menuliskan alamat web site tertentu, maka browser kita ( Internet explores atau Netscape ) tidak dapat mencari web site yang kita cari. Jadi kita wajib menuliskan semuanya dengan benar. Sama halnya dengan penggunaan Kartu ATM,yang pada dasarnya sama yaitu memakai program Komputer. Bila kita salah sebanyak 3 kali dalam memasukkan kata sandi ( PIN) kita maka kartu ATM akan ditelan oleh mesin tadi ( untuk mencegah penggunaan kartu ATM oleh orang lain ).

Sampai saat ini saya masih mengharapkan saya dapat mempunyai 1 set Laptop agar saya dapat menuliskan sesuatu ( catatan harian, artikel dll ) dan dapat mengakses Internet sehingga saya dapat menerima atau mengirim e-mail dari mailbox saya dari mana  saja, baik di dalam kota atau di luar kota ( Bandung, Jakarta  dll ). Dengan demikian saya bisa kerja lebih efektip. Semoga harapan saya ini dapat tercapai pada suatu saat. 

Masalah alergi Komputer bisa terjadi pada orang-orang tertentu.

Sudah 3 orang teman saya yang saya anjurkan untuk “go Internet”, tetapi sampai ½ tahun juga masih jalan di tempat, belum sampai ke dunia maya Internet. Alasan mereka dari A sampai Z. Saya masih mencari obatnya.

 

Pe lak pwe cap



Suatu hari, medio April 2004, datang berobat seorang Ibu A ( 60 th ) yang diantar putrinya, B  ( sekitar 30 th ). Mereka adalah orang Tionghoa.  Ibunya mengeluh sakit kepala dan ada sedikit Flu sejak 5 hari yang lalu dan sudah minum tablet anti flu yang dijual bebas. Meskipun merasa Ibu A sudah obat tetapi keluhannya  masih belum berkurang. Oleh karena itu ia minta diantar oleh putrinya untuk berobat kepada dokter.

Seperti biasa saya setelah melakukan anamnesa, mengukur tensi darah dan melakukan pemeriksaan fisik. Tensi yang terukur adalah 160/80 mmHg. 

Selesai memeriksa pasien, saya ditanya oleh B, “ Berapa tekanan darah Ibu saya, dok?”

Karena saya anggap mereka orang Tionghoa, saya jawab dengan istilah yang umum dipakai “Pe lak  pwe cap.” Maksudnya Cepe lak cap ( 160 ) dan pwe cap ( 80 ). Saya merasa yakin bahwa ia akan mengerti artinya.

Ketika saya duduk untuk menulis resep, B bertanya lagi “ Berapa tekanan darah Ibu saya, dok?”

Saya jawab dengan kalimat yang sama  “Pe lak pwe cap.”

Selesai menulis resep, B bertanya lagi “ Berapa tekanan darah ibu saya, dok.”

Merasa sudah menjawab sebanyak 2 kali, saya merasa heran mengapa ia masih bertanya lagi.

Saya jawab dengan jawaban yang sama , “Pe lak pwe cap” juga, dan saya balik bertanya kepada B, mengapa anda selalu bertanya dengan pertanyaan yang sama padahal saya sudah menjawab setiap pertanyaannya.

Ia menjawab dengan nada yang memelas,  “ Dok, saya tidak mengerti apa itu artinya Pe lak pwe cap.”

Glek saya kaget, masa sih orang Tionghoa tidak mengerti kalimat yang saya katakan yaitu “ Pe lak pwe cap .”

Setelah hilang kagetnya, saya berkata lagi “ Maaf. Maksud saya tekanan darah ibu anda adalah Seratus enam puluh dan delapan puluh.” ( Sistolik 160 dan Diastolik 80 mmHg ).

Wajah B cerah setelah saya menjawab dengan kalimat yang ia mengerti.

Anda boleh tidak percaya, tetapi ini kisah nyata yang saya alami dalam praktik saya.

Demikian pula ketika kami sekeluarga melancong ke Singapore beberapa tahun yang lalu faktor bahasa juga masih merupakan sedikit hambatan, karena saya tidak fasih berbahasa Mandarin yang umum dipakai di negara tetangga kita itu.

Bila seorang roomboy bertanya  “Ni haw ma?” ( apa kabar )

Saya menjawab singkat saja “Ni haw.” ( baik ).

Bila ia bertanya lagi dalam bahasa Mandarin, saya menjawab dalam bahasa Inggris saja, karena  hanya bahasa itu yang lebih banyak saya kuasai. Aneh juga kalau orang Tionghoa tidak mengerti bahasa Mandarin.

Kalau ditanya mengapa? Jawabnya “Wo pu ce taw” ( saya tidak tahu ) saja. Ceritanya panjang sejak tahun 1965 Pemerintah melarang yang berbau mandarin.

Bila saat ini  kondisi di negara RI sudah memungkinkan  pemakaian bahasa Mandarin maka sudah saatnya belajar bahasa tsb untuk pemakaianan sehari-hari dengan orang yang kita anggap mengerti bahasa tsb juga.

Pada akhir cerita ini saya ingin mengucapkan Cau-an ( selamat pagi ) dan Sie-sie ( terima  kasih ).-

 

 

 

Wednesday, December 02, 2009

Patah tulang


Orang yang sudah lanjut usia ( Lansia ), mulai umur 60 tahun sudah mengalami Osteoporosis ( keropos tulang ). Adanya benturan ( truam  fisik ) yang sedikit saja sudah dapat terjadi patah tulang ( fraktur ) terutam pada anggota gerak bawah ( tungkai atas dan tungkai bawah ) dan anggota berak atas ( lengan atas dan lengan bawah ).

---

Kejadian ini pernah saya alami pada tahun 1990 menghadapi seorang pasien  wanita lanjut. Suatu pagi saya dipanggil oleh keluarga pasien, Ny. A, 81 tahun. Mereka mengatakan bahwa ibunya itu merasa kesakitan yang hebat setelah buang hajat di kamar mandi.

Saya menghadapi Ny. A ini yang sedang mengerang-ngerang kesakitan. Kaki kanannya tidak dapat digerakkan dan kalau digerakan tungkai atas kanan oleh saya ia menjerit kesakitan. Panggul kanan ada nyeri tekan.

Saya membuat Diagnosa kerja saat itu: suspect ( tersangka ) Fracture Collum Femoris Dextra ( patah leher tulang paha kanan ). Saya membuat surat pengantar untuk membuat Foto panggul dan Tungkai atas sebelah kanan dan Surat Rujukan kepada Teman Sejawat Ahli Bedah Tulang ( Orthopaedi ) di kota Cirebon.

Beberapa hari kemudian  putri Ny. A datang ke tempat praktek saya melaporkan bahwa dari hasil Foto memang ada Patah tulang seperti yang saya duga. Dr. Ahli Tulang tidak menyarankan untuk oprerasi mengingat faktor usia yang sudah lanjut. Beliau memberikan resep tablet anti nyeri yang tidak banyak manfaat bagi Ny. A, karena ia masih mengeluh sakit.Terapi untuk patah tulang jenis ini adalah operasi. Bonggol leher tulang paha ini diganti dengan Prothese yang harganya cukup mahal.

2 tahun kemudian saya mendapat informasi dari salah satu anggota keluarganya yang datang berobat kepada saya bahwa Ny. A mengalami patah tulang yang sama pada sisi  kiri.

Aduh…klop sudah penderitaannya. Sakit makin sakit. Ny. A hanya dapat berbaring di atas bednya. Badannya urus kering. Saya tidak tahan melihatnya ketika dipanggil datang untuk memeriksa kesehatan Ny. A ini. Ny. A ini akhirnya meninggal dunia pada usia 90 tahun dalam keadaan menderita hebat.

---

Kasus yang kedua saya hadapi adalah Ny. B, 68 tahun yang menderita patah tulang seperti Nya.

Kisahnya demikian:

Suatu hari Ny. B mengunjungi salah satu Bank di kota kami. Lantai kantor tsb sedang dipel oleh salah seorang petugas Cleaning service. Ny. B melintas dekat ia bekerja. Entah bagaimana eh...tahu-tahu kakinya terdorong oleh tongkat pel tsb. Akibatnya tubuh Ny. B oleng dan jatuh diatas lantai.

Ny. B meraung-raung kesakitan. Terjadi keribuatan di kantor Bank tsb. Ny. B minta bantuan pihak Bank untuk memanggil adik laki-lakinya,Tn. K, 62 tahun. Tn. K datang untuk melihat keadaan kakaknya. Kemudian tn. A berkonsultasi dengan saya via handphonenya. Saya menganjurkan agar segera dibawa ke RS terdekat untuk minta bantuan Dokter di UGD untuk memeriksa dan membuat Foto Panggul dan tungkai yang sakit. Hasilnya benar ada patah leher tulang paha sebelah kanan. Pihak keluarga Ny. A minta bantuan dana untuk pengobatan, tetapi saya tidak mendapat kelanjutan realisasinya.

Ny. B akhirnya dibawa ke Bandung untuk di operasi dan mengganti bonggol leher tulang paha yang patah tsb. Oleh seorang Dokter Ahli Bedah Tulang. Biayanya lumayan besar, puluhan juta rupiah. 2 bulan kemudian Ny. B ini sudah dapat berjalan dengan bantuan kruk dan  saat ini  ia sudah dapat berjalan kembali tanpa kruk. Ia berjalan agak pintang akibat panjang kaki kiri dan kanan berbeda. Saya bilang diakalin saja dengan meninggikan  beberapa milimeter alas sandal atau sepatu yang dipakainya agar panjang kaki kiri dan kanan menjadi sama diukur dari permukaanlantai tempat ia berdiri. Saat ini Ny. B sudah dapat berjalan kembali.

---

Hindari benturan / trauma fisik pada usia lanjut diatas 60 tahun. Patah leher tulang paha sangat menyakitkan dan membutuhkan biaya puluhan juta rupiah.

Monday, November 30, 2009

Pagi yang kelabu


Pagi ini saya mendapat pasien Sdr. Doni ( bukan nama sebenarnya ), 25 tahun.

Ia diantar oleh ayahnya, Tn. Henri ( bukan nama sebenarnya ), 62 tahun. Henri ini adalah teman saya ketika duduk di bangku SD tahun 1950-an.

Doni dan keluarga kemarin hari Minggu menghadiri perjamuan pernikahan salah satu kerabatnya. Sejak semalam dan pagi ini, Doni merasa mual, diare 3 kali dan kepala terasa pusing. Tidak ada demam. Saya sering mendapati pasien yang setelah kondangan, menikmati hidangan yang lezat-lezat, mengeluh perut mual,  bahkan muntah-muntah diare dan kepala pusing.

Kumpulan gejala saluran pencernaan ini  mirip dengan gejala dari CRS ( Chinese Restaurant Syndrome ), kumpulan gejala yang terjadi setelah makan di chinese restaurant. Hidangan yang banyak berbumbu Mono sodium glutamate ( vetsin ) akan memberikan efek samping CSR.

Setelah memeriksa Doni, saya membuatkan Resep obat, Surat Sakit dan Kwitansi pembayaran yang akan dibayar oleh perusahaan tempat ia bekerja di kota Jakarta. Doni dan ayahnya mohon pamit dan saya mengucapkan semoga lekas sembuh. Mereka meninggalkan Ruang Periksa.

Saya mendengarkan siaran TV dan tidak sampai 10 menit, saya mendengar ketukan agak keras pintu Ruang Periksa dan teriakan “Dok, tolong, tolong!”

Wah ada apa nih? Segera saya membukakan pintu dan wow….. teman saya itu berdiri di depan pintu dengan tangan kiri yang berlumuran darah.

“Tolong, dok saya ketabrak truk!”

Saya menjawab “Tenang, tenang. Saya bersihkan dulu darahnya.”

Sambil bekerja saya bertanya dan rupanya setelah meninggalkan tempat praktek saya, Doni membonceng ayahnya naik sepeda motor untuk membeli obat di sebuah Apotik terdekat. Entah bagaimana tiba-tiba sebuah truk menyenggol sepeda motor mereka. Motor rusak dan jari tengah tangan kiri Henri sobek dan jempol kaki kirinya juga luka.

Setelah memeriksa luka robek itu saya memberi advis agar segera ke salah satu Rumah Sakit untuk menjahit luka tangan tsb. Luka tsb saya beri larutan Betadine ( antiseptis ) dan membalut dengan kain kasa dan kain pembalut untuk menghentikan perdarahan.

Mereka bergegas meninggalkan Ruang Periksa, saya  membatin  “Ah….kasihan betul si Henri teman saya ini. Barusan keluar dari Ruangan ini masih segar bukan, tetapi beberapa menit kemudian tangan dan kakinya terluka tertabrak truk.”

Status kesehatan seseorang ( siapapun ) berubah-ubah dari menit ke menit berikutnya.

Seperti yang saya temui ada seorang isteri yang meninggal dunia  2 jam setelah mengetahui suaminya meninggal dunia. Mereka sudah berumur 65 tahun-an. Sehidup-semati rupanya.

Saat ini kita mesti ekstra hati-hati ketika berjalan kaki di tepi jalan raya atau saat berkendaraan. Kadang kala kita sudah hati-hati, tapi masih juga terjadi kecelakaan karena  supir kendaraan lain tidak hati-hati alias ngantuk, terutama di malam hari. Oleh karena itu saya selalu menghindari naik mobil ( dengan supir sekalipun ) ke luar kota pada malam hari.

Kalau naik pesawat JakartaSydney selalu terbang malam hari, karena itulah jadwal terbang pesawat yang kami tumpangi ( tidak dapat saya rubah lagi ). Oleh karena mengandung  banyak resiko, maka seorang Pilot selalu ditemani oleh Co Pilot yang mendampingi menerbangkan pesawat. Jadi kalau yang satu ngantuk, masih ada yang lain untuk menerbangkan pesawat.-

Sunday, November 29, 2009

Olah raga, sehat atau sakit


Kejadian ini terjadi pada  medio 2003.

Suatu sore sekitar pukul 17.00, ketika saya sedang praktek sore, ada panggilan melalui telepon dari seorang isteri, Ny. A.  Ia memanggil Dokter untuk memeriksakan keadaan suaminya, Tn. A, 35 tahun dengan keluhan badannya sakit sampai tidak dapat bangun dari posisi berbaring.

Ia mengatakan bahwa suaminya hampir setiap hari berolahraga naik sepeda sejak 1 tahun yang lalu. Pagi hari pukul 06.00, Tn A. bersama teman-temannya bersepeda ke daerah Waduk Darma, Kabupaten Kuningan. Tempat ini berjarak sekitar 35 km dari kota Cirebon dimana ia tinggal. Saya pikir jarak itu terlalu jauh bagi pengendara sepeda sehat, lagi pula jalannya menanjak karena Waduk Darma berada di daerah Gunung Ciremai, gunung tertinggi di Jawa Barat.

Ketika saya memasuki kamar tidur dimana Tn. A berbaring, disekililing bed hadir isteri, ketiga putra/inya, Ibu Mertua dan seorang pembantu rumah tangga. Keadaan ini  biasa terjadi bila seorang pasien sakit berat.

Dalam tanya jawab ( anamnesa ) penyakit yang diderita pasien  antara saya dan Tn. A. tidak dapat berlangsung dengan baik ( kontak inadekwat ), sehingga Ny. A  yang banyak menceritakan riwayat penyakit suaminya. Tn. A sebelumnya sehat dan tidak ada keluhan. Suaminya tampak sakit dan lemas sekembalinya ia naik sepeda dari Waduk Darma.

Pemeriksaan fisik yang saya lakukan semuanya dalam batas normal, kecuali kontak yang inadekwat, sepertinya ia menyembunyikan rasa bersalahnya kepada keluarganya bahwa ia naik sepeda  terlalu jauh sehingga badannya kelelahan yang sangat. Ia menderita Fatique syndrome. Saya memberikan resep 2 macam obat,  tablet anti nyeri dan tablet multivitamin & mineral. Saya memberi anjuran agar setelah mandi air hangat dan makan malam pasien segera tidur untuk memulihkan kesehatannya. Tn. A tidak  diperkenankan naik sepeda untuk 2-3 hari dan lain kali jangan bersepeda terlalu jauh jaraknya sehingga tujuan bersepeda untuk menjadi sehat tidak tercapai dan bahkan menjadi sakit.

Keesokan paginya sekitar pukul 06.30, untuk suatu keperluan saya naik mobil dan melewati rumah Tn A. Saat itu saya melihat Tn. A. membawa sepedanya keluar dari pintu pagar rumah. Rupanya Tn. A sudah pulih kembali kesehatannya dan ingin bersepeda lagi. Ia sudah lupa anjuran Dokter kemarin sore. Bersepeda rupanya sudah merupakan habituasi, kebisaan sehari-hari.

Rupanya Tn. A. mempunyai moto “Tiada hari tanpa bersepeda.” Di dalam mobil saya menggeleng-gelengkan kepala.-

 

 

 

Friday, November 27, 2009

Pasien aneh


Cirebon, 5-Sep-2000.

Seminggu yang lalu saya dikunjungi pasien, seorang bapak K., 52 tahun yang mengeluh: pusing sejak beberapa hari yang lalu, semalam menggigil, susah tidur ( insomnia ), penglihatan kedua mata kabur dan rasa tidak enak sekitar hidung.

Setelah melakukan pemeriksaan saya mendapatkan: tekanan darah:normal, THT : normal, kedua mata: Katarak ( pasien berkaca mata minus ) dan observasi Cephalgia ( pusing ) yang dapat disebabkan banyak hal seperti: Flu berat, Stres, Radang Sinus ( Sinusitis ), sedang tanggung bulan dll.

Untuk menegakkan diagnosa, saya menganjurkan untuk dilakukan pemeriksaan laboratorium klinik terhadap darah dan urinenya.

Saya membuatkan surat permohonan pemeriksan laboratorium ke salah satu lab. klinik.

Sebagai obat sementara yang dapat meringankan penderitaan bapak K, saya membuat resep 1 macam obat yang mengandung anti pusing, penenang dan vitamin. Saya menganjurkan agar hasil pemeriksan lab. segera diserahkan kepada saya.

4 hari kemudian datanglah bapak K. ke tempat praktek saya. Ternyata sepulangnya dari tempat praktek saya 4 hari yang lalu, ia tidak memeriksakan darah dan urinenya ke lab. klinik, tetapi ia pergi mengunjungi dokter lain, teman sejawat ahli THT, dengan alasan bahwa pusingnya tidak tertahankan ( padahal saya sudah memberikan resep untuk mengatasi pusingnya yang tidak ia belikan, mana ada perubahan rasa pusingnya? Kalau obatnya belum diminum ). Oleh ahli THT, bapak K. ini diberi resep 4 macam. Meskipun sudah diminum obat-obat tersebut, tetapi rasa pusing dan tidak enak sekitar hidungnya tidak juga mereda.

Rupanya bapak K. ini tidak mempercayai saya sebagai dokter dan telah meminta second opinion dari dokter lain. Ketika ia juga belum sembuh dari penderitaannya, ia menuruti anjuran saya untuk melakukan pemeriksaan laboratorium ( kenapa ia tidak melakukannya sejak awal ). Semua hasil pemeriksaan darah dan urine bapak K. ini ternyata dalam batas-batas normal. Saya menganjurkan agar resep yang telah saya berikan kepadanya agar dibelikan dan segera diminum sehari 3 kali 1 kaplet.

Bapak K.  ini bertanya, “Dok, mengapa rasa pusing saya belum sembuh?”

Saya menjawab, “ Saya tidak mengerti jalan pikiran bapak. Anda telah berobat kepada saya tetapi tidak melaksanakan anjuran saya untuk melakukan pemeriksan laboratorium dan resep obat tidak dibeli, bahkan pergi ke dokter lain yang hasilnya juga tidak ada. Hasil pemeriksan laboratorium Anda ternyata dalam batas normal. Nah… begini saja minumlah obat yang sudah saya resepkan untuk Anda. Bagaimana Anda akan sembuh bila obatnya saja belum dibelikan dan diminum?”

Ia berkata lagi, “ Habis bagaimana dok?”

Saya menjawab, ”Tidak bagaimana bagaimana. Segera belikan resep obat yang saya berikan. Semoga lekas sembuh”, saya akhiri konsultasi dengan bapak K ini.

Setelah pasien itu meninggalkan ruang periksa saya, saya merenung: kasihan bapak K.  ini, kalau setelah minum obat resep saya rasa pusingnya tidak juga sembuh, mungkin sebaiknya dirujuk ke teman sejawat Psikhiater.-

Kalau jasmani tidak apa-apa, maka penyebabnya mungkin berada di bidang rohani. Sampai kisah ini dibuat, bapak K.  belum kembali lagi.  Sembuhkah pusingnya?  Semoga.-

 

Jangan meremehkan KTP


9 Sept 2000 jam 09.15 pagi saya mendapat panggilan per telepon dari salah seorang  tetangga, Ny. A. yang meminta agar saya datang secara asap (as soon as possible ). Katanya ayahnya yang sudah bertahun-tahun menderita Stroke, baru saja meminggal dunia. Ia minta agar saya sebagai dokter dapat memastikannya.

Saya segera mengunjungi rumahnya. Saya diterima oleh salah seorang familinya, Ny. B. Saya memeriksa Tn. M ini yang memang sudah meninggal dunia. Saya katakan bahwa Tn. M sudah meninggal dan saya akan membuat Surat Keterangan Kematiannya. Untuk itu saya minta melihat KTP almarhum. Ny. B minta agar saya menuliskan namanya tanpa mereka harus mencari-cari KTP almarhum lagi  ( apa susahnya mencari KTP di lemari atau laci?).

Anaknya ( Ny. A ) sedang sibuk menelepon para familinya sambil tersedu-sedu. Saya katakan kepada Ny. B bahwa bila salah menulis namanya maka nanti akan mengalami kesulitan. Akhirnya saya menuliskan nama yang disebutkan oleh Ny. B ini diatas Surat Keterangan Kematian almarhum.

Sekitar jam 11.30 siang datanglah seorang bapak N., utusan dari keluarga almarhum. Maksud kedatangannya adalah untuk meminta saya mengganti nama almarhum yang sesuai dengan yang tertera di KTP almarhum. 

Dugaan saya benar bahwa akan ada kesulitan. Bapak N. sudah melapor kematian Tn. M kepada Pak RT dan Pak RT minta agar nama almarhum diatas Surat Keterangan Kematian dari Dokter disesuaikan dengan yang tertera di KTP nya. Finally saya menulis lagi Surat Keterangan Kematian dengan nama yang benar yang tertera di KTP almarhum.

Saya harus bekerja 2 kali untuk hal yang sama. Oleh karena itu hati-hati menyebutkan nama kita, harus sama dengan yang tertera diatas Kartu Identitas kita ( KTP, Paspor dsb ). 

Surat Keterangan Kematian dari Dokter ini akan dipergunakan untuk proses adminstrasi keperluan: pemakaman, kremasi ( pembakaran jenasah ) dan pengangkutan jenasah ke luar kota. Tanpa Surat Keterangan Kematian ini semuanya tidak akan terlaksana.

Di Indonesia nama itu demikian penting. Tidak seperti yang dikatakan seorang pujangga Inggris, Shakesper, “ What is a name ?” ( apalah artinya sebuah nama?) seperti dalam sebuah puisinya.

Simpanlah semua surat yang penting anda ( KTP, Paspor, Akte Nikah, Akte Kelahiran, Surat Waris, Surat Deposito, Buku Tabungan di Bank dll ) di tempat yang aman dan mudah dicari dalam keadaan darurat. Simpanlah Fotokopinya dan yang aslinya simpan di Safety Box di Bank anda.-

 

 

Thursday, November 26, 2009

Keringat dingin


Ketika saya pagi ini datang ke Panti Wreda untuk memeriksa kesehatan dan memberikan resep obat / vitamin bagi yang membutuhkan, saya memeriksa luka  pasca operasi Hernia scrotalis dextra ( kanan ) Opa M, 69 tahun.

Sebelum memasuki kamar Opa M, Ibu E ( Ibu Panti ) melaporkan kejadian kemarin pagi yang membuat dia geli.

Saya bertanya kepada ibu E, “Ada apa Bu?”

Ibu E berkisah : “Kemarin pagi ketika kasa pembalut luka Opa M akan diganti, saya bersama Sdr. S ( asisten yang bekerja di Panti ) berada di sebelah bed Opa M. Saya melepas plester dan kasa pembalut luka. Setelah terangkat, maka tampaklah sebuah garis sepanjang 10 cm, bekas luka operasi yang dijahit sembilan jahitan kulit  yang berwarna coklat akibat terkena cairan antiseptis Betadine. Sdr S juga melihat luka operasi pada lipat paha Opa M. Saya melihat wajah Sdr S pucat dan berkeringat. Ketika saya tanya kenapa kamu S? Sdr S. berkata saya belum pernah melihat luka  dan jahitan seperti itu, saya ngeri melihatnya.”

Saya berkomentar “Benar, Bu. Seseorang yang tidak terbiasa bila melihat luka jahitan atau luka yang baru yang masih  berdarah akan merasa  panik, takut, tegang dan berkeringat dingin. Bagi tenaga medis yang  pernah  bekerja di bagian Bedah Rumah Sakit keadaan tsb sudah biasa dan tidak membuat tegang. “

Saya melanjutkan “ Baik, sekarang saya lihat Opa M.”

Kedatangan saya pagi itu juga bermaksud akan mengangkat jahitan luka operasi Opa M. Ada sembilan jahitan kulit. Operasi tanggal 19 dan sekarang tanggal 25, berarti sudah enam hari. Biasanya pada hari kelima,  jahitan kulit sudah dapat diangkat, kalau  luka tidak bengkak dan luka kering tidak ada nanah. Luka Opa M baik dan kering. Saya mengangkat 1 jahitan kulit tsb dan memeriksa bagaimana luka tsb ketika saya sedikit meregangkan tepian luka. Bila kulit rapat tertutup maka luka sudah kering. Pada Opa M ini kedua tepian bekasa sayatan pisau bedah belum begitu rapat benar. Saya kahawatir penyembuhan Opa M yang sudah sepuh ini masih perlu waktu beberapa hari lagi untuk membuat lukanya kering. Akhirnya saya angkat jahitan kulit tsb secara selang seling, masih tersisa 4 jahitan lagi yang  akan saya coba angkat 3-4 hari kemudian.

Keadaan umum Opa M baik, makan minum sudah bagus, b.a.k. dan b.a.b juga lancar, tidak ada demam, tekanan darah juga normal. Semoga Opa M ini segera pulih kesehatannya setelah mengalami operasi tsb.

Semula Pengurus Panti Wreda akan membawa Opa M ke Rumah Sakit untuk angkat jahitan. Saya pikir kalau luka baik, tidak usah ke Rumah Sakit lagi-lah, saya akan mengangkat jahitan kulit tsb yang biasa saya lakukan juga bagi pasien praktik sore saya di tempat praktik. Mengangkat jahitan kulit pada  orang dewasa yang tenang tentu lebih sederhana dan lebih mudah dari pada melakukan  sirkumsisi ( khitanan ) pada seorang anak usia sekitar 4-7 tahun yang sering mengangis  atau meronta-ronta ketakutan.-

Tuesday, November 24, 2009

Seperti anak-anak lagi


Siklus hidup manusia terjadi mulai masa Janin, masa Bayi, masa Anak-anak, masa Remaja, masa Dewasa, masa Tua, meninggal dunia. Generasi muda akan  muncul dengan siklus hidup seperti itu pula.

Saya kenyang  menghadapi sikap para warga Panti Wreda milik Gereja kami. Dari 14 warga saat ini tinggal 10 warga yang terdiri dari 4 Opa dan 6 Oma.

Opa M, 69 tahun, minggu lalu mengalami operasi penyakit Hernita inguinalis di salah satu Rumah Sakit. Selesai operasi dan rawat inap 2 hari, Opa S pulang ke Panti kembali. Keadaan umumnya cukup baik, luka operasi  baik.

Keluhan dari Ibu Panti dan sesama warga Panti terhadap Opa M ini sama karena  bila tiba waktu makan, maka Opa M ini seperti mogok makan. Meskipun ada makanan, sepertinya Opa S  tidak ada selera makan padahal lauk pauk cukup baik. Opa M harus dibujuk-bujuk agar  jatah makanannya segera dimakan. Bila tidak mempan, maka sering kali diomelin oleh Ibu Panti. Opa  M yang tidur sekamar juga sudah habis kesabarannya membujuk Opa S agar mau makan.

Alasan tidak mau makan katanya, perutnya mual,  mau muntah bila melihat Telur atau Susu.

Selaku dokter di Panti, saya sudah memberikan Vitamin penambah nafsu makan, obat anti mual dll selain obat dari Rumah Sakit. Saya juga sudah memberi motivasi agar Opa S mau makan yang banyak. Kalau tidak makan, maka tidak ada tenaga dan bagaiman amau cepat sembuh dari sakitnya?

Saya membandingkan dengan keluhan Ibu-ibu yang datang mengantar anak-anaknya  berobat. Keluhan umumnya juga terdapat menurunnya selera makanbila sedang sakit atau bila sedang sehat sekalipun. Anka-anak tsb harus dibujuk-bujuk dan diming-imingi janji-janji akan diajak jalan-jalan dsb. Bila sudah habis kesabarannya Ibu-ibu ini  dapat menjewer telinga anak-anaknya. 

Kepada warga Panti, orang yang sudah lanjut, bila telinganya  dijewer maka ia akan marah, bukannya  menuruti kehendak Ibu Panti. Jadi perlakukan kepada umur lanjut berbeda meskipun perangainya mirip anak-anak.

Oma T lain lagi  kelakukannya. Mirip anak-anak juga.

Bila sudah masuk Kamar Mandi, maka ia akan lama keluar dari Kamar mandi. Bila diperiksa ternyata ia sedang main air di ember yang tersedia di kamar tsb. Persis seperti anak Balita yang senang main air. Bila dipaksa keluar dari kamar Mandi, ia akan meronta-ronta. “Nanti dulu, nanti dulu. “ Kalau tidak dipaksa keluar,  kapan akan selesai mandinya?  Oma T juga sering ngompol ( seperti anak-anak juga ) dan mesti dipakaikan Pampers untuk menampung urinenya.

Opa dan Oma yang lain meskipun umurnya sebaya dengan Opa S dan Oma T, tetapi kelakuannya biasa saja tidak mutlak seperti mereka.

Oleh karena itu bila kita yang masih mempunyai Ortu ( tentu usianya sudah lanjut ), janganlah merasa heran bila kelakuan beliau-beliau ini  kembali seperti anak-anak.-